Tren Travelling 2017 yang unik dan menarik

"Follow the Trend Lines, not The Head Lines." - Bill Clinton

Kita hidup di zaman yang serba menegangkan. naik turun, kiri kanan, seorang pecundang jadi pemenang. Siapa yang benar-benar tahu apa yang sedang terjadi-apalagi apa yang akan terjadi. Dunia wisata perjalanan juga tidak jauh berbeda. Tidak ada yang dapat meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan.

 Airbnb terus tumbuh mengalahkan indeks pertumbuhan hotel , dan Kuba akan menjadi tujuan wisata baru yang sedang in)
Berikut adalah 8 Tren Wisata 2017 :

1.Tren mengunjungi resor-resor untuk Self Healing/ penyegaran kemali pikiran :Di Amerika para Pekerja mulai memahami hubungan yang kuat antara kesehatan dan mengambil cuti (baca : berlibur ) ; dengan pengusaha yang mengeluarkan biaya. Liburan mulai naik daun sejak tahun 2015. wisata Wellness tumbuh 50% lebih cepat daripada perjalanan biasa, dengan wisatawan mengakui bahwa refreshing dan meremajakan diri secara teratur merupakan bagian dari keseimbangan kerja-hidup sehat. Pengusaha yang pintar mulai berpikir untuk menginvestasikan uang untuk liburan karyawan mereka, setelah mengetahui bahwa kebahagiaan, kreatifitas dan kesegaran pikiran karyawan-(karyawan makin termotivasi dan itu menguntungkan bagi perusahaan) semakin ti nggi setelah mereka pulan berlibur.

2. Indeks Konektivitas antar tempat wisata makin bertumbuh : saat ini Anda dapat pergi ke mana pun dan di mana saja dalam waktu 24 jam. banyak sekali operator perjalanan wisata murah lokal/daerah yang telah menjamur secara global; dan selama dekade terakhir, penerbangan telah menambahkan lebih dari 10.000 rute baru - 37 persen peningkatan - melayani lebih dari 37.000 pasang kota. Sekarang ada 1.280 bandara internasional yang melayani 48.977 rute di seluruh dunia. Itu berarti bahwa tujuan sekunder membuat dunia lebih kecil dan lebih murah!

3. Tren traveling yang mencari tantangan: bosan dengan rutinitas kita sehari-hari, akhirnya membuat kita lebih ambisius dalam mencari petualangan sendiri. wisatawan ingin otentik seperti tayangan reality di TV, dan tidak lagi puas dengan dipaksa makan di kapal pesiar kusam atau tidur di pantai selama liburan. Mereka ingin pengalaman yang bersifat  partisipatif dan penuh petualang dan tantangan. produk petualangan wisata yang menarik telah mulai diadakan untuk mengisi kekosongan jiwa yang sakit, seperti: atraksi becak regional Asia Tenggara, dan mac daddy dari semua perjalanan kompetitif, Kejuaraan wisata dunia tahunan yang dikenal sebagai The Global Scavenger Hunt. Petualangan kompetitif seperti ini, memungkinkan wisatawan memforsir diri dan berpetualang untuk menguji kecerdasan dan IQ Traveling melawan wisatawan lain yang terbaik dunia. Mungkin kita akan melihat wisata  perjalanan sebagai olahraga Olimpiade di 2024?


4. Tren Menyerbu  promo Tiket Pesawat : wisatawan sedang menyerbu promo online 24/7 dan selalu mencari "penawaran terbaik". Namun keanehan harga fluktutatif dalam industri penerbangan membuat banyak kecemasan di era microaggressions.  Dengan calon wisatawan yang  rata rata mengunjungi 161 situs wisata -sebelum akhirnya menyempit ke bawah sampai 48 kunjungan ke delapan situs-sebelum melakukan pemesanan; menemukan tarif termurah adalah lebih sulit daripada hanya membersihkan cookies dan riwayat mesin pencari. Perhatikan situs mega-pencari seperti FLYR dan Hopper, dan seperti yang berpikiran upstarts, yang secara akurat memprediksi (dengan akurasi 95%?) Harga tiket pesawat termurah, untuk tidak hanya menawarkan nasihat tentang kapan harus membeli, tetapi mulai menjual polis asuransi harga yang mengunci-in harga tiket pesawat-pesawat secara berjangka.


5. Xenophobia Travel Indeks (tren mengunjungi tempat-tempat yang kurang begitu ramah turis) : Ketika Air Jordan di hari pemilihan membuat iklan yang mengatakan: "Pergilah traveling  ke AS-saat Anda masih diperbolehkan untuk!", Carilah perjalanan ke negara-negara Islam moderat, untuk mengambil hit besar. Dan kebijakan pemerintah  Amerika yang reaksioner berbasis ketakutan dengan mulai membangun jenis Veiled Wall of screening, keamanan dan pengawasan di sekitar negara-negara Islam dengan redlining mereka-tidak memungkinkan warganegara Amerika untuk bepergian ke sana .

6. Tren melihat tempat-tempat unik/langka  di belahan dunia yang lain yang jarang dikunjungi wisatawan lain : Seperti Angkor Wat, Tempat Holocaust Yahudi oleh Nazi di Polandia, Machu Pichu,
 Hal ini seperti kata Harvard profesor, Paul F. Nunes dan Mark Spelman istilahnya "kelangkaan tempat". Semakin langka tempat tersebut , harag berwisatanya semakin mahal karena orang semakin nafsu untuk memburunya sepeerti biaya naik Uber pada saat peak time  bahkan mungkin menggunakan sistem undian untuk membatasi pengunjung selama masa puncak liburan. Intinya: harganya akan makin naik.


7. Tren mengunjungi tempat-tempat yang malah dilarang oleh Dinas Pariwisata Negara asal :  Wisatawan selalu mencari makna dalam perjalanan mereka, para  wisatwan selalu mengambil foto dan menguploadnya ke media sosial tanpa malu, memboikot, meremehkan dan sebaliknya mentertawai sesama pelancong dengan pergi ke tempat-tempat yang dianggap terlarang. Apakah mengunjungi Myanmar selama perang atau ke Afrika semasa  Apartheid-era Selatan  berkuasa, wisatawan mulai berani menyingkirkan kecemasan mereka terhadap tempat-tempat seperti: Uganda dan North Carolina untuk undang-undang anti-LGBT mereka; Rusia untuk pencaplokannya Crimea, agresi Ukraina dan campur tangan dalam pemilu AS baru-baru; dan bahkan Israel, sebagai Boikot kenegaraan pro-Palestina,  Efektif atau tidak, para kaum milenial sangat sadar sosial, merekalah yang mengubah nilai-nilai budaya Amerika, mencoba untuk mempengaruhi masyarakat global dengan memilih mana dan di mana tempat untuk menghabiskan uang mereka, baik itu: tempat yang melanggar hak asasi manusia, tempat yang mengalami kerusakan lingkungan atau tempat yang merupakan warisan budaya .



Comments

Popular Posts