5 Brand Fashion Jepang yang lagi Hype

Selain terkenal karena teknologinya, Jepang juga diakui berkat kekreatifan anak mudanya berinovasi dalam berpakaian. Tolak ukurnya lihat saja Harajuku, yang merupakan salah satu pusat street fashion di dunia. Di distrik itupun banyak terdapat berbagai macam merek, lokal maupun internasional. Perkembangan fashion di Jepang di tunjang pula dengan industri lokal sana yang bisa bersaing hingga mendunia. #WedWearing kali ini, kami akan berikan brand-brand apa saja yang berhasil mendunia dan mengharumkan nama Jepang. Berikut daftarnya:


Tak diragukan lagi A Bathing Ape merupakan merek streetwear yang paling berpengaruh dan terbaik yang pernah ada di Jepang. Sang desainer Nigo memulai pada tahun 1993 dengan beberapa kemeja dan hoodies, ditambah dengan sneakers Bapesta. Karyanya yang paling fenomenal tentu saja pattern camo khas nya yang menjadi booming, dan mengambil alih pasar streetwear Jepang di tahun 2000-an.

A Bathing Ape konsisten memberikan model yang eksklusif dan ditunjang oleh beberapa produk kolaborasi yang dibuat limited edition. Dengan cetakan dan logo print besar serta digunakan oleh Kanye West dan Pharell William, tentu semua orang menjadi menginginkannya. Tapi karena terbatas itulah hanya sedikit yang bisa mendapatkan Bape dan membuatnya terus diburu.

Sayangnya, A Bathing Ape mengalami overhype, dan membuatnya dijual ke Hong Kong IT Group pada tahun 2011. Bape merupakan salah satu brand yang sering dijadikan rujukan, tidak ada merek streetwear di dunia yang bisa mengklaim tidak terpengaruh oleh Bape.

2. Uniqlo
Uniqlo telah meraup kesuksesan di mana perusahaan seperti Gap, dan H&M telah tersandung. Dengan akar yang ditancapkan mulai 1949, tetapi mulai dengan sungguh-sungguh pada tahun 1984, Uniqlo menawarkan konsep fashion store yang selalu berimprovisasi dalam menyediakan pakaian berkualitas dengan harga ramah di kantong konsumen. Brand ini telah memperluas jaringan dengan 100 toko di Jepang pada 10 tahun terakhir termasuk membuka lokasi di jantung kota Harajuku – jantung mode Tokyo -. Pada tahun 2004 brand ini, mulai mengekspansi luar negeri dengan membuka gerai di New York, termasuk Indonesia.


3. Onitsuka Tiger


Onitsuka Tiger memiliki sejarah panjang bagaimana merayu atlet cabang atletik yang dahulu biasa bertelanjang kaki agar terbiasa mengenakan sepatu. Selain itu, tujuan pendiri Kihachiro Onitsuka adalah untuk membangkitkan percaya diri anak-anak di negara yang dilanda perang melalui atletik. Suatu sepatu yang menawarkan banyak inovasi saat itu yang membuatnya populer di Jepang. Perubahan nama merek menjadi ASICS di tahun 1977, membuat brand ini lebih populer tidak hanya di kalangan atlet saja namun juga di kalangan pecinta fashion. Kini siapa yang tak kenal sneakers legenda Onitsuka Tiger, atau ASICS Gel Lyte?


Ada cerita menarik, sekitar tahun 60-an seorang mantan agen Onitsuka untuk bagian Amerika, mulai menjual sepatu bernama Cortez yang desainnya berdasarkan pada Onitsuka Corsair. Tahukah kamu siapa mantan agen itu? ia adalah Phil Knight, dan bisnisnya bernama Nike.
 

4. EVISU 


Meskipun Evisu bukan yang pertama dalam memproduksi selvedge denim, tetapi brand inilah yang memberikan pengaruh besar dan mempopulerkan jenis denim ini. Berawal dari sang designer sekaligus pemilik Hidehiko Yamane yang bekerja sebagai pemasok pakaian impor ke Jepang, ia menemukan bahwa hampir tidak ada denim berkualitas di pasar Jepang. Kemudian ia mulai mengumpulkan mesin tenun kuno untuk menganyam selvedge denim, di awal tahun 90-an Yamane mulai dengan memproduksi 14 potong denim yang dijual di sekitar Osaka. Setiap potong dari denim tersebut dibubuhi segel buatan tangan di bagian saku belakang yang membutuhkan kesabaran dalam membuatnya. Tak perlu disangsikan, kini selvedge denim sedang menjadi trend dan memicu minat di seluruh dunia akan vintage denim. Evisu pun menjadi contoh bagaimana industri kecil dijalankan di Jepang.

5. COMME DES GARCONS




Brand yang identik dengan ikon Hati dan Mata, ini pertama kali muncul tahun 1970 dari ide kreatif Rei kawakubo yang berani mendekonstruksi konvensi di dunia fashion. Kini Comme des Garçons telah mendominasi pasar high fashion, khususnya bagi pria kontemporer. Tidak hanya sampai disitu saja, ia membuka sub-unit Play dan Homme Deux yang dikhususkan bagi penikmat pakaian streetwear dan pakaian formal sehari-hari.

Comments

Popular Posts